BERITA TERBARU

  • Pintaraja Marianus Sitanggang
  • KERIKIL KERIKIL TAJAM
  • Beberapa penyebab kegagalan CU
  • BEBERAPA CATATAN UNTUK DIRENUNGKAN DAN DILAKSANAKAN
  • PENDIDIKAN DAN PELATIHAN AKTUALISASI SAK ETAP
  • PESERTA RAT TB 2016
  • Peserta RAT TB-2016

  • <<< PREV NEXT>>>

    ARSIP BERITA

  • June 2017 (5)
  • July 2017 (2)
  • September 2017 (1)
  • RANDOM PHOTO

    KEGIATAN

  • AKTUALISASI SAK ETAP
  • PELATIHAN KREDIT MACET
  • MEMBER

    Login :
    Password :
     
        Daftar

    STATISTIK WEB

    Pengunjung Online
    :
    1
    Hits Hari Ini
    :
    29
    Hits Minggu Ini
    :
    349
    Hits Bulan Ini
    :
    825
    Hits Tahun Ini
    :
    6198
    IP Anda : 54.146.50.80

    KERIKIL KERIKIL TAJAM
    Diposting oleh : admin,Hari: Selasa, 13 Juni 2017 - 05:44:32 WIB, Kategori: P.M SITANGGANG - Dibaca: 740 kali

    Koperasi kredit, dimanapun berada, ingin dikembangkan sebagai lembaga keuangan swadaya milik masyarakat yang mapan dan permanen. Kenyataan dan pengalaman menunjukkan upaya untuk membangun kearah itu, bukanlah pekerjaanmu yang berjalan mulus. Lingkungan dan struktur sosial, ekonomi, politik dan, budaya, terutama di wilayah pedesaan, sering kali belum mendukung perwujudan cita-cita mulia seperti itu. Upaya untuk menaruh perhatian khusus bagi golongan masyarakat yang lemah dan yang miskin, tak ayal dihadapkan kepada pergulatan kepentingan ekonomi, sosial dan politik baik yang terang-terangan maupun yang terselubung. Kenyataan ini menuntut para penggerak dan pemimpin koperasi kredit menguasai tak hanya soal-soal teknis, tetapi juga siasat-siasat yang lembut dan jitu mendorong proses perolahan. Dengan begitu,kepentingan semua  warga dapat tertampung, secara adil,tanpa ada pihak yang merasa terancam dan dirugikan. Sukses pendekatan ini justru akan ditandai oleh kesadaran, kecintaan dan keikutsertaan secara aktif golongan yang kuat untuk membantu dan mengajak yang lemah berkembang melalui koperasi kredit.

    Kesulitan membangun si lemah, tak hanya datang dari luar berupa pergulatan kepentingan ekonomi-sosial yang terkadang amat tajam. Secara psikologis, masyarakat yanng miskin telah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Kenyataan selama ini mereka terabaikan dan tertinggal dari hiruk pikuk proses pembangunan pun merupakan persoalan yang kurang menguntungkan. Mereka yang miskin ,sering kali hanya menjadi penonton yang menyedihkan dari kemajuan orang lain disekitarnya. Nestapa dan kemiskinan yang menekan untuk jangka waktu amat panjang, telah menggeser keyakinan mereka bahwa masa depan dan kehidupan yang lebih baik adalah perkara nasib semata. Nalar ,akal sehat, rasionalitas untuk menggunakan kekuatan yang dimilikinya sendiri dalam semangat kerjasama dengan orang lain,terutama rekanan yang senasib,tertekan sampai kedasar, Sampai ke bawah sadar, karena itu perlu dimunculkan kembali.

    Secara ekonomis ,keluarga-keluarga golongan masyarakat miskin di pedesaan hidup dalam pola ‘tekor’ yang terus menerus untuk waktu yang sudah amat lama. Kenyataan seperti ini, menyebabkan ‘nalar kemajuan ekonomi’ yang bertolak dari sumber dayanya sendiri,tak gampang mereka mengerti, hanya bukti dan telaah pengalaman yang terang dan gamblang mampu menyentuh dan menumbuhkan kembali harapan dan keyakinan mereka, itupun jikalau tersedia ‘tokoh panutan’ yang mereka percayai akan dengan tulus dan jujur menjadi pendekar untuk berjuang bersamanya. Dalam peri kehidupan ekonomi seperti itu secara sendiri-sendiri mereka tak layak memiliki daya tawar menawar (bargaining power). Sementara produk-produk dari sektor industri modern yang padat modal dengan teknologi canggih memberondong ‘selera naluriah’ mereka dengan rangsangan hadiah dan cara pembelian kredit yang menarik.

    Latar belakang kehidupan sosial budaya desa yang kompentitif, berorientasi kepada ‘wah’ status, gengsi, merupakan ladang yang subur untuk tumbuhnya sikap hidup konsumtif. Sempurnalah sudah lingkungan yang mersangsang orang desa untuk terseret dalam arus pemiskinan sistimatis yang amat deras. Tak banyak metode dapat dipergunakan untuk membendung arus dan proses seperti itu. Salah satu yang mungkin dipergunakan secara tepat guna adalah upaya pembangunan sistem ekonomi desa yang memiliki kadar ‘ gerakan nalar dan moral’ dengan memberikan kepedulian besar (concern) kepada yang lemah.

    Koperasi kredit memenuhi syarat dan memiliki bakat untuk melakukan perjuangan mulia seperti itu,namun itu tak berarti koperasi kredit di desa, dapat sepenuhnya terbebas dari pengaruh sistem nilai sosial budaya ,ekonomi dan politik seperti digambarkan diatas. Karena itu dalam tulisan ini, kita tidak ingin menepuk dada,atau ikut bertepuk riuh penuh semangat atas sukses koperasi kredit selama ini, yang ingin disoroti justru wujud nyata pengaruh pengaruh itu yang akan menjadi kerikil tajam bagi kehidupan koperasi kredit di desa. Sebelumnya,perlulah kita camkan benar bahwa tujuan koperasi kredit dalam jangka pendek (micro) adalah meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Namun, tujuan yang lebih mendasar, meski bersifat jangka panjang (macro) terutama untuk meningkatkan kekuatan ekonomi, posisi tawar menawar dan menciptakan sistem yang lebih adil bagi kemajuan rakyat kecil. Hal seperti itu memang tak akan terjadi pada skala unit unit kopdit, tetapi kalau dipersatukan dalam skala yang lebih luas, daerah, nasional dan solidaritas internasional,  kalau dayabeli rakyat meningkat. Daya beli meningkat kalau pendapatan bertambah besar. Pendapatan bertambah kalau lapangan kerja tersedia. Lapangan kerja bertambah luasa kalau kegiatan ekonomi produktif berkembang. Kegiatan usaha ekonomi berkembang apabila ada investasi. Investasi akan meningkat kalau ada modal. Modal akan tersedia kalau masyarakat menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk ditabung. Nah tabungan, bagi orang perorang maupun dalam skala luas bagi masyarakat akan memiliki fungsi dan peranan yang sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi. Di koperasi kredit kita menabung, guna menciptakan sumber modal dan mendorong upaya mencapai kemakmuran rakyat.

     

    Cara memungut kerikil tajam bagi kehidupan koperasi kredit di pedesaan, akan dicoba cermat dan disajikan dengan semudah-mudahnya. Dengan begitu gampang dimengerti. Butir butir kerikir, diperoleh dari ketekunan mengamati kehidupan koperasi kredit dari pelosok=pelosok desa dan kota, untuk waktu yang panjang. Karenanya, tiap persoalan yang ditampilkan, adalah bagian pengalaman kita semua, yang amat berharga sebagai bahan belajar, disadari, direnungkan dan menjadi pertimbangan bagi setiap langkah mencapai kemajuan. Inilah dia kerikil-kerikil itu.

     

    1. Sumber-sumber ekonomi berupa permodalan yang dihimpun didalam koperasi kredit sebagian besar akan dimamfaatkan oleh anggota-anggota yang sudah kuat.

    Kecenderungan ini disebabkan oleh :

    1.1 Secara ekonomis, memberikan pinjaman kepada anggota yang mampu, ada jaminan                  lebih aman.

    2.1 Secara sosial, para pelaksana pelayan pinjaman ada rasa segan untuk tidak                              mengabulkan.

    3.1 Kebijaksanaan pelayanan pinjaman yang didasarkan pada perkalian jumlah                                         simpanan .Yang mampu dapat menyimpan lebih besar, karena itu dapat meminjam

    Lebih banyak.

    4.1 Para anggota yang mampu biasanya memiliki usaha sedangkan prioritas pinjaman                  sering kali diberikan untuk tujuan produktif.

     

    Upaya pencegahan yang dapat dilakukan :

    1. Distribusi pinjaman diusahakan mencapai rasio minimal 60% dari seluruh jmlah           anggota.
    2. Disamping sistem perkalian dari tabungan, hendaknya ditetapkan jumlah maksimum   pinjaman yang dapat diperoleh anggota. Juga perkalian progresif.
    3. Membimbing anggota yang kurang mampu untuk rajin menabung dan             menggunakan pinjaman untuk usaha.
    4. Memprakarsai adanya usaha-usaha wirakop bagi para anggota dngan pembatasan    pemilikan saham maksimum.

     

     

     

     

     

    2. Rata-rata simpanan anggota sudah terlalu besar dan modal tidak terserap secara baik       sebagai pinjaman yang dibayar anggsurannya secara teratur,Hal ini disebabkan oleh :

    1.2 Keanggotann yang terbatas jumlahnya.

    2.2 Anggota yang rajin menabung untuk jangka waktu lama sedang pendapatan                            keluarganya tidak bertambah.

    3.2 Management pinjaman kurang luwes dan progresif.

    Upaya pencegahan dan mengatasi yang dapat dilakukan :

    1. a.  Memperluas lingkungan ikatan pemersatu untuk dapat menambah jumlah anggota
    2. b.  Memperpanjang jangka waktu pinjaman, untuk pinjaman produktif diberikan masa                  tenggang anggsuran
    3. c.  Ikut dalam program interlending dan mengembangkan usaha wirakop bagi para                                  anggotanya.

     

    3. Kebosanan para Pengurus dan Badan Pemeriksa untuk melakukan tugas pengelolaan koperasi kredit secara sukarela, Berbagai bentuk gejala dan penyebabnya :

    1.3 Adanya kelesuan dan tugas-tugas pengelolaan terbengkalai

    2.3 Kehadiran di dalam rapat semakin jarang dan tugas terbeban kepada Bendahara saja atau beberapa orang pengurus yang masih aktif.

    3.3 Orang tidak bersedia dipilih menjadi Pengurus.

    4.3 Masa pengelolaan sukarela sudah terlalu lama (umumnya lebih dari dua kali masa jabatan atau 6 tahun).

    Upaya untuk mengatasi yang dapat dilakukan :

    1. Mengangkat tenaga purna waktu yang dibayar, apalagi kalau bisa memperoleh                                   tenaga yang cocok dan menarik.
    2. Memberikan perangsang untuk setiap kegiatan bagi koperasi kredit (rapat, motivasi,             kunjungan dll)
    3. Menggunakan jasa konsultasi dari BK-3 D/BK-3 I
    4. Menggunakan jasa pelayanan audit eksternal dari BK-3 D/BK-3 Indonesia.

     

    4. Kurang lancarnya proses alih kepemimpinan di dalam kepengurusan koperasi kredit.

    Berbagai bentuk gejala dan penyebabnya :

    1.4 Secara budaya, kepemimpinan berorientasi kepada status dan gengsi, tidak kepada             fungsi idiilnya.

    2.4 Terjadi penyelewengan yang masih terselubung.

    3.4 Kaderisasi dan sistem magang tidak berjalan.

     

    Upaya yang dapat dilakukan :

    Dengan setiap ketentuan di dalam Anggaran Rumah Tangga mengenai pergantian Pengurus perlu ditaati. Dalam banyak Kasus Audit dari luar sangat menolong.

     

    5. Hubungan dengan Pejabat atau dengan Pemerintah setempat kurang baik, akibatnya         menimbukan kesulitan.Berbagai bentuk gejala dan penyebabnya :

    1.5 Pendekatan dari awal kurang baik atau terjadi pergantian pejabat baru.

    2,5 Ada golongan atau pihak tertentu yang dirugikan kepentingannya oleh koperasi                       kredit.

    3.5 koperasi kredit kurang memberikan imformasi kepada pejabat secara teratur.

    4.5 Ada sikap eksklusif dan menepuk dada dari pihak koperasi kredit dan cenderung                     mendiskreditkan atau merendahkan pihak lain,

    Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah :

    a. Penggerak, Tokoh atau Pengurus Koperasi Kredit perlu melakukan pendekatan sejak                awal kepada pejabat setempat, Kalau perlu pendekatan pribadi.

    b. Memberikan imformasi secara jelas dan teratur, secara tertulis maupun lisan.

    c. Usahakan kopdit memiliki anggota dari berbagai golongan dan lapisan masyarakat di       lingkungannya.

    d. Jangan menepuk dada dan merendahkan pihak lain.

    e. Dekati dan gunakan pemimpin informal yang berpengaruh untuk melindungi kopdit.

    f. Secara kolektif berusaha untuk memperjuangkan status badan hukum koperasi kredit   melalui BK-3 Indonesia.

    g. Berbuatlah jasa kepada lingkungan masyarakat setempat, misalnya memberikan                         bagian SHU untuk menyumbang berupa bibit tanaman buah/penghijauan,                                         pembangunan fasilitas pelayanan umum dll.

     

    6 Keengganan untuk mengembangkan pengelolaan koperasi kredit secara profesional        dengan mengeluarkan pembiayaan yang wajar dalam RAPB koperasi kredit, Berbagai gejala dan penyebabnya :

    1.6 Pengurus melaksanakan kegiatan pelayanan harian dengan mendapatkan imbalan                 atau honor.

    2.6 Pengurus merasa dapat melakukan pekerjaan itu secara sukarela dan penggal                                  waktu, bergiilran dan karenanya merasa berhak untuk menerima imbalan yang                                   wajar.

    3.6 Para pendiri dan perintis yang masih duduk dalam pengurus merasa berjasa dan                               pantas memetik buahnya berupa imbalan ketika kopdit sudah mampu.

    4.6 Tidak rela memberikan gaji kepada karyawan tetap yang jumlahnya seringkali lebih                besar dari gaji para Pengurus dalam pekerjaaanya sebagai guru, pegawai,                                        karyawan swasta, petani, dll.

    5.6. Sulitnya mencari tenaga yang sesuai dengan syarat-syarat yang diinginkan.

    6.6. Kurangnya pembinaan management dari BK-3 D atau BK-3 Indonesia.

    Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya :

    a. Salah seorang dari pengurus yang memenuhi syarat dan punya waktu untuk                             mengundurkan diri dan diangkat sebagai manager atau karyawan.

    b. Mengangkat pegawai yang masih muda untuk dilatih dengan gaji yang tidak terlalu         tinggi.

    c. Menggunakan jasa konsultasi management dari BK-3 Daerah/BK-3 Indonesia secara      bertahap beranjak mengembangkan managemet profesional.

     

    7. Rawannya koperasi kredit menghadapi bahaya konflik internal di dalam kepengurusan dan            badan pemeriksa, terutama alau terjadi masalah,Berbagai gejala dan penyebabnya :

    1.7 Hubungan kerjasama antar pribadi di dalam kepengurusan koperasi kredit lebih                                banyak didasarkan pada perasaan dan belum pada kelugasan aturan seperti                           tercantum pada AD/ART

    2.7 Adanya kecenderungan saling menyalahkan bila kerjasama dihadapkan kepada                                 resiko kegagalan.

    3.7. Kurangnya kesadaran, pengetahuan dan keterampilan kerjasama orang-orang                                  sehingga terjadi dominasi, kurang tenggang rasa, kurang saling menghargai, dll.

    4.7. Kurangnya pengaturan yang adil dari berbagai tugas, kesempatan, fasilitas, yang                 tersedia bagi kepentingan pekerjaan.

    Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasinya :

    1. Penggunaan aturan-aturan yang lugas sejak dari mula perlu dilatih dan                                                   dikembangkan. Demikian juaga kalau terdapat kesempatan atau fasilitas perlu diatur               secara adil dan formal penggunaannya.
    2. Evaluasi yang kritis terhadap suatu kesalahan atau masalah tanpa mencari siapa                     yang salah. Penggunaan ‘ini masalah kita semua’ akan memberi rasa aman                                        terhadap akibat berbagai kegagalan pada orang-perorang.
    3. Persoalan kecil jangan ditumpuk menjadi besar sehingga membuat situasi                                  kerjasama menjadi semakin tegang dan sukar diatasi
    4. Menggunakan jasa pihak lainyang disegani bersama untuk menjernihkan persoalan                dan mengatasi konflik sangatlah berguna. Selesaikan masalah-masalah kecil yang                  terjadi di dalam kerjasama tanpa menundanya.

     

    8. Persaingan pelayanan dengan sumber-sumber perkreditan lain dengan syarat dan tatcara             yang lebih mudah,Berbagai gejala dan penyebabnya :

    1.8 Berkembangnya sumber-sumber pelayanan perkreditan uang maupun barang ke                     wilayah pedesaan sebagai pasar potensial.

    2.8 Perubahan siasat sumber-sumber kredit akibat dari persaingannya dengan koperasi                kredit (sikap pelayanan, sistem jaminan, kemudahan cara, diantar ke rumah, jangka               waktu yang panjang, bunga yang rendah, dll)

    3.8 Kemudahan dari program-program sektoral di wilayah pedesaan (perumahan, kredit     usaha tani, inmas, bantuan sosial, badan kredit kecamatan,candak kulak, dll)

    Upaya untuk mengatasinya :

    a. Meningkatkan efisiensi pengeloalaan koperasi kredit.

    b. Menigkatkan sikap pelayanan kepada para anggota.

    c. Melakukan pembinaan dan pendidikan anggota secara teratur dan terus menerus sesuai kebutuhan dan tingkat perkembangannya. Aspek dan falsafah swadaya senantiasa perlu ditekankan.

    d. Secara kolektif menetapkan bersama- sama tata-cara pemamfaatan sumber-sumber lain bagi kepentingan para anggota koperasi kredit tanpa mengganggu identitas dan kemandiriannya melalui Puskopdit / Inkopdit.

     

    9. Putusnya hubungan pembina dan kesetiakawanan dengan koperasi kredit lain dalam wadah Puskopdit / Inkopdit, Berbagai gejala dan sebab :

    1.9 Lokasi yang sulit dijangkau secara geografis

    2.9 Tidak pernah dikunjungi dan dibina oleh koordinator BK-3 Daerah, BK-3 Indonesia

    3.9 Tidak ikut serta dalam berbagai program kerjasama solidaritas sperti Interlending,      Daperma, Audit dll.

    4.9 Merasa dapat memenuhi berbagai kebutuhan anggota sendiri dan mengatasi masalahnya     sendiri.

    5.9 Berafiliasi dengan lembaga-lembaga pembina lainnya.

    Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi :

    a. Melakukan kontak, komunikasi dan konsultasi secara tertulis.

    b. Menyampaikan laporan secara teratur bulanan.

    c. Mengikuti program kerjasama solidaritas dalam bentuk interlending, daperma, pendidikan,audit dll.

    d. Mengundang bilamana menghadapi masalah serius untuk mencari pemecahan yang   paling baik.


    BERITA TERKAIT
    KATEGORI

  • PENDIDIKAN ( 2 )
  • RAT ( 2 )
  • P.M SITANGGANG ( 4 )
  • BANNER


    POLLING

    Perlukah ada Manager di Puskopdit

    TIDAK TAHU

    SANGAT PERLU

    TIDAK PERLU


    Lihat Hasil Poling

    BERITA TERATAS

  • Beberapa penyebab kegagalan CU dibaca: 976
  • Peserta RAT TB-2016 dibaca: 911
  • PELATIHAN dibaca: 791
  • BEBERAPA CATATAN UNTUK DIRENUNGKAN DAN DILAKSANAKAN dibaca: 745
  • KERIKIL KERIKIL TAJAM dibaca: 740
  • Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Sumatera Utara
    Pematangsiantar©2017 Webmaster
    I N D O N E S I A